Ada sesuatu yang menarik dari penggunaan kata kerajaan dalam judul tulisan ini. seseorang tidak harus mengenakan mahkota atau duduk di singgasana untuk menjadi penguasa. Ketika ia memiliki kendali atas aturan, sumber daya, dan kehidupan orang-orang di sekitarnya, ia dapat menentukan banyak hal, bahkan tanpa pernah menyebut dirinya sebagai raja. Sekarang, bayangkan sebuah pesantren. Di dalamnya ada ribuan santri, aturan yang mengatur kehidupan sehari-hari, kegiatan ekonomi yang terus berjalan, dan masyarakat yang ikut mendukung perkembangannya. Tentu, pesantren bukan kerajaan. Namun, sebuah pertanyaan layak diajukan, bagaimana jika kekuasaan di dalam suatu lembaga menjadi begitu besar hingga orang-orang di sekitarnya merasa sulit mempertanyakannya? Untuk memahami persoalan itu, mari kita membayangkan seorang santri bernama Fikri.









